Kamis, 20 April 2017

blue Thrusday

Surabaya siang ini mendung sekali, anginnya semilir membuat kita ingin segera menuntaskan tidu siang hingga sore hari tiba. aku rebahkan badan di kasurku "Bruk" uuhh rasanya, I couldnt ask more for this comfortable. jendela yang sudah terbuka mempersilahkan angin -angin semilir itu menyentuh tubuh - tubuhku. segar sekaliiii. ini semua membuatku sangat kantuk.

kupandangi langit - langit kamarku, ahhhhh, sudah 24 tahun aku di kamar sesak ini. kamar yang punya segala cerita tentang perjalanan hidupku dan juga tempat kurancang mimpi- mimpiku.

tiba - tiba lamunan membawaku terbang melayang ke beberapa waktu yang lalu. aku ingat ibuku pernah bercerita tentang seorang gadis. Akan kuingat waktu itu

*******************************************************************************

"loh kamu ga tidur?" ibuku menegurku dibalik pintu kamar

"iya sebentar habis ini" ujarku sambil melanjutkan menata buku pelajaran hari esok. ya besok hari kamis, aku ada pelajaran bahasa inggris dan bahasa indonesia. Aku sangat antusias sekali.

Ibuku masuk kekamarku dan berbaring di kamarku.

"sini tidur" ajak ibu.
setelah kurasa semua beres. aku mengiyakan ajakan ibu. tidur berdua disampingnya.

"Besok kalau sekolah perhatikan baik - baik ya, minggu depan ulangan" ujar ibu sambil mengelus elus rambutkyu.

aku tak menjawab, karena aku sudah lier -lier gara gara usapan ibu ke rambutku.

ibu memastikan apakah aku sudah tidur dengan mengangkat daguku ke arahnya, aku sudah terlelap tapi aku masih mendengar suara ibu bilang "huh anak lucu", tak kuindahkan, mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi.

sayup-sayup aku mendengarkan ibu bercerita tentang seorang gadis, antara sadar dan tidak, antara mau mendengar dan tidak, telingaku tetap berfungsi baik kala itu.

"Sembilan tahun lalu, seorang gadis lahir kedunia dengan sehat. semua bidan dan dokter yang membantu persalinannya mengatakan bahwa bayi perempuan itu sangat cantik. sayang, waktu itu orang tuanya tak punya uang lebih untuk membeli baju bayi, alhasil dia hanya ditutupi handuk hingga sampai rumah. Dia bayi yang unik, jarang menangis banyak tertidur. tiga tahun kemudian, bayi itu berubah menjadi sosok yang gadis kecil yang cantik nan imut. dia selalu senang bila diajak bermain diluar, hal yang paling ia lakukan pertamakali ketika bermain diluar ialah mendekati orang lain didekatnya, entah sekedar melihat apa yang orang lain lakukan ataupun hanya sekedar menyapa. gadis ini sangat berani. dia suka sekali memegang buku ataupun melihat - lihat tulisan walapun belum bisa membacanya. dia belum boleh sekolah karena umurnya terlalu muda, tapi ia sangat ingin bersekolah. selalu setiap pagi dia melihat - anak anak yang bersekolah dan melihat mereka dari luar jendela. itu pun sudah membuatnya senang. melihat hal itu, ayahnya mulai mengajarkannya membaca. satu persatu huruf dikenalkan dan diajari cara mengeja per kata. aku masih ingat bagaimana girangnya gadis itu ketika belajar membaca, setiap hari dia selalu mencoba - coba apa yang diajarkan ayahnya. belum genap empat tahun, ia sudah bisa membaca koran. bayangkan saya, ketika yang lain baru belajar mengeja, ia sudah bisa membaca koran. yaaaaah, dia senang membaca. aku turut bangga. ketika sekolah pun demikian, dalam hal membaca dia tidak perlu diragukan lagi. gadis ini paling unggul, semua orang sudah tahu. tapi dia jarang sekali maju di depan kelas untuk membaca. entah dia malu ataupun dia tidak mau terlihat sombong. yang jelas, gadis ini sangat suka berteman. ketika teman -temannya punya tas ransel atu tas sekolah yang bagus, dia hanya punya tas kain yang dijahit budenya sendiri. tak apa baginya. gadis kecil ini tidak pernah berfikir hingga kesana, sekali lagi aku bangga padanya. beranjak menuju SD, saat pertama kali pendaftaran sekolah berlangsung. Ayahnya mendaftarkan diri di salah satu SD negeri dekat rumahnya, persyaratannya adalah calon siswa harus sudah bisa mengeja kalimat (bukan membaca), bagi ayahnya persyaratan tersebut ringan saja untuk putrinya, namun ada hal lain yang ia takutkan. benar saja, di tahap tes membaca gadis ini lolos dengan pujian, namun untuk biaya administrasi Ayahnya tidak cukup uang untuk itu. gadis kecil ini tidak tau menau soal hal itu, yang ia tahu hanya ia akan bersekolah dengan seragam putih merah dan bertemu teman baru di sekolah itu. Ayahnya waktu itu hanya seorang pegawai penjilidan dengan gaji tak menentu dan ibunya buruh pabrik kaleng di kawasan rungkut industri. Aku ingat betul waktu itu biaya masuk 200.000, nilai itu pada tahun tersebut banyak jumlahnya. karena bingung harus membayar, akhirnya gadis itu ditinggal sementara di sekolahan, sementara sang ayah harus kembali kerumah pinjam hutangan pada sanak saudara. aku juga ingat betul, hari itu hujan. sedangkan ayahnya harus mengayuh sepeda onthel menuju rumahnya dengan menerobos hujan deras itu. gadis itu memandangi ayahnya yang semakin jauh dengan tatapan dalam, aku tahu sebenarnya gadis itu ingin ikut dengan ayahnya, tapi ia hanya gadis kecil yang polos yang ingin bersama ayahnya. Aku sempat dengar cerita dr seorang tetangga, ketika gadis itu duduk menunggu ayahnya ia sempat meneteskan air mata namun tidak menangis. mungkin ia takut ditinggal sendirian di sekolah. tidak berapa lama, ayahnya kembali kesekolah, dari jauh gadis yang masih duduk di tempat yang sama meneriaki ayahnya yang masih mengayuh sepeda, tiba - tiba gadis ini berlari menghampiri ayahnya di gerbang sekolah dengan menerobos hujan.ayahnya yang basah kuyup, meraih putri kecilnya dan mendekap agar tidak kehujanan. ayahnya mengendong putrinya menuju ruang kepala sekolah, dengan keadaan basah kuyup, keduanya diterimalangsung oleh si kepala sekolah.ayahnya mengeluarkan dua uang 100.000 an dari sakunya, uang itupun takluput dari basah kuyup. hal ini menarik perhatian semua calon wali murid yang mendaftarkan anaknya di sekolah yang sama, mereka terharu dan tersanjung. tahun berlalu, gadis ini mulai tumbuh dewasa, diasekarang kelas 3 SD.meskipun tak selalu meraih ranking 1, tapi ia selalu masuk kategori sepuluh besar di kelasnya.peringainya tidak berubah, ia selalu ceria. gadis yang punya tanda lahir di paha kanan ini, senang sekali bila diajak berkawan siapa saja."

perlahan mataku terlelap, aku terbawa cerita, ibu masih saja bercerita. tapi aku tertidur.

***************************************************************************



aku akan berumur 24 tahun, aku akan menjadi seorang istri.

aku berterimakasih banyak pada tuhan karena selama ini aku tidak sama sekali pernah memiliki musuh.

aku sudah banyak mengalami suka duka baik dalam pertemanan maupun percintaan. aku tidak pernah menganggap itu sebuah hal yang besar.bagiku setiap hari aku selalu berbicara pada diriku sendiri jadilah orang seperti orang yang ingin kau temui. sebisa mungkin aku berusaha maksimal dalam melakukan apapun, aku sebisa mungkin sabar dalam menghadapi apapun.

aku sadar, friends is easy come and go. tapi, aku akan berusaha ada.
kadang aku selalu berfikir, aku ingin selalu berbuat baik ke orang lain, agar orang tersebut berbuat sama padaku. namun kenyataanya tidak. Dunia tidak semulus apa yang aku bayangkan.

berapapun sakit hati yang sudah aku alami, semuanya adalah pelajaran yang berarti. berapa kali "They try to drag me down", I will always cheer my self up.

Mungkin jika sekarang ada yang membenciku. Itu mungkin salahku, karena aku tidak bisa mengimbangi mereka.

Tidak apa -apa, saya akan terus memperbaiki diri.

yang aku pikirkan hanya ingin membahagiakan orang tuaku tanpa harus mereka tau apa yang sudah kujalani. My parents deserve the best.

aku sadar aku manusia, banyak sekali kesalahan yang aku buat.
tidak ada yang bisa berbuat lagi kecuali berdoa pada allah swt dan berusaha.
tiada masalah meskipun aku harus melakukan semua sendiri karena true friends are only in fairy tales.

terimakasih tuhan, atas semua yang telah engkau berikan padaku, engkau cukupi semua kebuthanku. couldnt ask more. alhamdulillah

"kraaaaaaak" terdengar suara pintu kamar terbuka

"plaaak" suara pukulan tangan sepupuku ke arah paha kananku,

"aduuuhhh apaaan ini" jawabku kesakitan

"kak itu apa sih di pahamu?"

"itu TO. bahasa indonesianya tanda lahir" jawabku.


Senin, 06 Maret 2017

sedate

berada di suatu keadaan ketika kamu terkepung dengan masa lalu yang harusnya kamu lupakan tapi continously, teringat. 
I have never felt this before. 

aku sering memaafkan dan juga melupakan, sekarang aku tidak. selalu ada galian masa lalu yang masih menganga dalam pikiranku. apa aku belum menguburnya, atau malah ada orang lain yang menggali kembali kenangan yang sudah terkubur rapi. aku coba ingat kembali. sepertinya memang seperti itu, karena aku sudah tidak pernah kembali ke "makam" itu lagi. 

ijinkan aku berfikir dan mengingat kembali.

18 detik.

ya, aku sadar sekarang ternyata bukan aku yang belum mengubur kenangan itu, melainkan orang - orang sekitarku yang menggali lagi benaman itu dan membuatku harus berhadapan kembali dengan "jasad" tersebut. Sedihnya lagi, oknum - oknum penggali itu tidak segan segan mengajak orang lain untuk ikut menggali juga. 

ahhh.

sekarang galian itu dimana - mana. benda- benda dalam yang telah aku kubur rapi, kini hidup kembali. 

aku tidak bisa lewat, aku takut ketika harus menghadapinya lagi. Setiap kutemui lubang galian, aku berusaha untuk menepis rasa takutku. Pilihannya hanya, aku tutup kembali galian itu dan pergi tanpa terhalang lagi, atau aku tetap tinggal dengan kuburan di depan. 

ya, setiap ada galian itu. aku selalu berusaha untuk mengubur kembali dengan susah payah, dengan keringat bercucuran, dan darah yang mengalir. 

sampai kapan aku harus terkepung dengan seperti ini, aku lelah. 

Mereka selalu melihatku gembira dan tersenyu, tapi mereka tidak tahu kelelahan yang kurasakan di setiap harinya aku harus menutup lubang - lubang itu satu persatu.

apakah cinta sesusah ini, ya tuhan.
apakah cinta se-melelahkan ini, tuhan?

kalau memang jalanmu untukku seperti ini. aku ikhlas,

kutunggu mereka lelah untuk menggali lubang itu sepuasnya. hingga mereka gentar melihatku tak pernah lelah menutup kembali apa yang sudah mereka gali. 

aku tidak marah, tuhan.
aku cuma ingin engkau berikan lebih kekuatan dan kesabaran. 
jangan hilngkan hidayah pada diriku untuk terus beriman, ya tuhan.
karena bila cobaan hidup berat, aku memilkimu untuk membuatnya ringan. 


Minggu, 19 Februari 2017

Too late, to be left

Seberapa salahkah dirikuHingga kau sakiti aku, begitu menusukkuInikah caramu membalasAku yang selalu ada saat kau terluka
Seberapa hinanya dirikuHingga kau ludahi semua yang ku beri untukmuTak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka
Namun ku terlanjur mencintai dirimuTerlambat bagiku pergi darimuBagiku terlalu indah perasaan ituTak mudah untukku menjauh darimu
Telah ku coba segala carauntuk bahagiakan kamuMerebut hatimu
Namun tak semudah yang ku bayangkanBila kau tak inginkan aku untuk di sisimu
Tak pernah kurasakan sebelumnyaMenginginkan dirinya hingga ku tak kuasa meyakini hatiku bahwa ku mampu berlalu
Namun ku terlanjur mencintai dirimuTerlambat bagiku pergi darimuBagiku terlalu indah perasaan ituTak mudah untukku menjauh darimu


arlnsymrldy

Kamis, 01 Desember 2016

I am okay

Well, ini tengah malam. Aku terbangun dari tidurku karena beberapa bagian kulitku terasa gatal karena gigitan nyamuk.

Malam hari waktu dimana pikiran selalu melayang layang kemanapun, kemanapun.....
Tak sengaja aku melihat postingan salah satu teman di sosial media, ada yang membuatku terpana. Bukan isinya, melainkan salah satu orang yang meresponnya dengan tanda "love".
Aku sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan "orang" ini. Tapi entah mengapa kerap kali aku tak berhenti berpikir tentangnya. Siapa dia? She's had ever in my man's life for little time.
Meskipun begitu rasanya apa yg sudah pernah ada, berikan impact padaku sekarang.
Well, if you know the fact people always give a damn in my relationship story. Ada yg curiga penuh prasangka bagaimana aku dan dia hingga saat ini masih bersama. Ada juga yang masih tak percaya. Some of them think that I forced my man to be with me. Wth! I AM NOT TRASHY.

Susah juga percaya sebenarnya kalau yg blg seperti itu most of people close to us, around our circle everyday.


Thus, I always make sure to him about what he feels to me. I am curious. But, praise to the lord he loves me in anyways. Alhamdulillah.
Harusnya dgn seperti itu keyakinan mereka terpatahkan. But sometimes situation got me overthinking.

I am a quote reader, guys. Yes! To cheer up my self, i always read some motivational quote. Why didnt I tell to my friend to get some advive? I HAVE, but I got no some advice. Hehehehehe
Some of quotes that i have read said that I have to live today not think about past. Yaaaah, It should be. I have been trying to forget the past. But sometimes past appears on my mind. Life never get easier, we just get stronger, doesnt it?

Trust allah, believe in me. Kata kata itu yg selalu ada dipikiran aku. Kadang juga sempat membandingkan diri sendiri dengan salah satu teman yg pernah diselingkuhi mantan kekasihnya namun tetap bisa berteman baik dengan mantan kekasihnya tersebut. How amazing she is(I think), Forget the past, live the present.

Aku sangat pencemburu, entahlah. Baru pertama kali aku bersikap se possesive ini, kadang juga aku malu, kadang juga berlalu tak mau tau. But, I try to be wiser, to believe my self everything gonna be okay. I love him all the way. I can't stop thinking about him. I love him 😊😊😊

Aku tipe tipe orang yang suka bercerita, ya memang aku harus bercerita. Aku tak mampu simpan beban masalah yang aku hadapi sendiri. But, I have not find where I supposed to belong. Aku belum menemukan teman yang sejalan, yang mau menerima aku di semua keadaan. Teman yang mampu Menampung tangisan tanpa harus merendahkan, berbicara tanpa harus ada dusta dan juga tertawa dengan banyak cerita.
Aku ingin seperti rasulullah saw, punya banyak sahabat yang mau menemani hingga detik terakhir di dunia. Namun bukankah beliau harus melewati berbagai cobaan dl agar orang mau menerimanya, mendapat cacian dan makian agar orang mau menerima ajarannya. Akhirnya hanya orang orang terpilihlah yang mampu menemaninya.

 Sekarang apa yang bisa kita andalkan selain diri sendiri dan doa. Kita yang bisa menyetir diri kita sendiri agar bisa bisa lebih bijak dalam menghadapi sesuatu. Jangan sampai kehilangan hidayah untuk berdoa. Allah is everything. Doa adalah amunisi dan senjata segala situasi yg kita hadapi.




Rabu, 23 November 2016

dia korban?

Surabaya sore ini agak sedikit mendung, aku sudah menyelesaikan beberapa tugasku. ya, mata kuliah Linguistik ini memang sedikit menyebalkan karena aku tidak paham materinya sama sekali. tapi perlahan aku pasti bisa menyelesaikan semuanya.

untungnya, aku masih semester tiga. belum terlambat untuk mempelajari linguistik. oh Ya aku mau bercerita mengenai kisahku tiga tahun lalu ketika berlibur bersama temanku, tepatnya tahun 2009. 


waktu itu aku sedang berlibur di Kota Batu bersama ketiga temanku, sebenarnya berlibur ke kota Batu memang rutin kami lakukan namun kali ini berbeda. karena kita semuanya full team satu genk biasanya kami hanya berdua ataupun bertiga jarang sekali bisa full team heheheheh

hari itu kami dari Surabaya ke Malang kota naik Bus, perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam karena ada kemacetan di daerah purwosari menuju arah malang. Sampai di Malang, Kami sengaja tidak turun di Terminal Arjosari melainkan turun di perempatan jalan dekat Pabrik Bentoel karena sesampai disana kami sudah dijemput oleh kakak temenku, mbak revi. setelah sudah masuk mobil, kami lanjutkan perjalanan ke kota Batu

malam harinya, kami berenam (dengan kakak temanku dan suaminya) berniat untuk jalan jalan di sekitaran Kota Malang. Di malang kami mampir di berbagai banyak tempat mulai dari beberapa kafe hingga tempat nongkrong non cafe (kayak alun -alun dan taman taman gitu loh). waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, kami memutuskan untuk kembali ke Batu ke rumah kakak temanku itu. aku tertidur, di dalam mobil. entahlah, aku terasa lelah sekali hari itu. 

tiba tiba aku terbangun gara gara aku merasakan hawa gerah, rupanya kami belum sampai juga. kami sedang terjebak macet di salah satu ruas jalan di Kota Batu. sedikit lagi sampai sebenernya kalo tanpa macet.
lainnya tertidur, tinggal dua orang yang terjaga aku dan mas risal (suami mbak revi). aku yang duduk di bangku di barisan kedua, tepat dekat kaca merasakan hawa makin gerah. aku ngecek AC yang ada diatasku, masih nyala tapi mengapa suasana panas sekali. 

tiba tiba datang seseorang mendekat ke aku, ia mengetuk kaca mobil tepat sebelahkuu. "Astaghfirullah" ucapku terperanjat. 

sesosok perempuan berambut panjang, berbaju kemeja penuh lumuran darah sedang mencoba berbicara padaku. bola matanya tak ada, mukanya pun berdarah darah. ia menangis disebelahku. aku membeku seketika. aku ketakutan, bibirku kaku tak bisa berkata apa - apa. dalam hati aku beristighfar tanpa henti.

"tolong carikan mataku, ku mohon" pintanya padaku. mataku pun masih terpaku melihat sosoknya, tak berpaling sedikitpun. aku benar benar kaku. aku terus lafadz kan asma allah swt beserta beberapa doa pendek yang kuingat. hatiku terasa tenang, anehnya aku cuma kaget tapi aku tidak takuy dengan sosok mengerikan itu. ya perempuan itu meminta tolong aku mencarikan kedua matanya . 

aku tarik napasku dalam - dalam, aku pejamkan mataku. aku melafazkan beberapa doa yang biasa aku baca ketika berhadapan dengan kondisi saat ini. 
beberapa saat setelahnya, ia pun tak kunjung pergi, ia masih menangis meminta tolong aku. kubuka kaca jendela mobil, aku sentuh tangannya. entah, tapi aku bisa merasakan tangannya yang cukup kasar. aku minta maaf padanya, aku belum bisa menolongnya. 
"tenanglah, aku sudah pada allah swt. agar bisa menemukan matamu secepatnya. tapi maaf aku tidak bisa menolongmu. aku minta maaf. pergilah dengan tenang" ujarku padanya.

perempuan itu meninggalkanku dengan keadaan menangis, aku melihatnya terbang melesat jauh. "alhamdulillah" ujarku sembari menghembuskan nafas

"kenapa fa?" tanya mas risal.

"emm anu mas" aku berfikir sejenak mencari jawaban yang tepat karena aku tau ia tak bisa melihat apa yg terjadi barusan.
"ga apa apa mas, abis kentut heheheheheheehhehehe" daripad aku dikira hoax mending aku jawab dengan jawaban yang agak rasional hehehehe

spontan mas rizal langsung menutup hidung. di belakang aku terkekeh melihatnya.

********

esok harinya mba revi membangunkan kita berempat. ia menyuruh kita untuk ke pasar dan membeli beberapa botol susu. 

"kalian tau ngga? aku barusan di telpon temanku. masak, pas dia mau ke pom bensin, daerah tempat kita macet semalam. dia diceritani salah satu petugas kebersihan yang biasa nyapu daerah situ katanya dia nemu bola mata" cerita mbak revi pagi itu membuat ketiga temanku langsung memelototlan matanya dan mengusir rasa kantuk seketika. ketiga temanku bergidik ketakuta dan saling memeluk satu sama lain

"trus mbak matanya ditaruh mana?" tanyaku pada mbak revi

"katanya sih langsung dibawa ke rumah sakit gitu, soalnya dua hari sebelumnya memang ada kecelakaan mobil di daerah situ dan menewaskan sembilan orang. keliatannya sih matanya salah satu korban"

aku tersenyum lega. akhirnya, allah mengabulkan doaku untuk itu. aku lihat dari balik pintu depan rumah mba revi, kulihat perempuan yang kemarin menemuiku tersenyum padaku. ia kini tampak sempurna dengan dua bola matanya yang indah. ia nampak cantik dengan badan tinggi. ia melambaikan tangan ke arahku dan tersenyum seraya ia pergi hingga tak tampak sampai pelupuk mataku. 

Rabu, 18 Mei 2016

ruang kantor ku ini bukan termasuk bangunan lama ataupun tipe tipe yang tak terawat. namun banyak yang bilang kalau ruang kantor tempatku bekerja ini penuh dengan suasana horror, termasuk aku salah satunya. 

malam ini aku sengaja melembur karena ada beberapa berkas yang harus aku bereskan segera. seperti biasa hanya aku tertinggal disini. di ujung pintu dekat ruang pantry kulihat perempuan cantik dengan rambut terurai melihat kearahku. aku ajak ia mendekat padaku.

ya dia adalah siti. teman baru ku yang pertama kukenal ketika aku menginjakkan kaki di kantor ini. kita jarang berkomunikasi, hanya saling memandang dan melempar senyum. 

kali ini dia duduk tepat di depanku, menatapku dalam. sedikit heran, kare
na tak biasanya ia seperti ini padaku. kulempar senyum padanya, namun ia masih saja belum berkedip menatapku. tanpa menghiraukannya, aku lanjutkan saja pekerjaan ku. 

"apa kau akan meninggalkanku?" tiba tiba kata kata itu terlontar dari mu

Sabtu, 12 Maret 2016

Diari Nafisah

Tumben sekali rumah sakit ini terlihat lengang, padahal rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar di kota ini. Bisa dibilang rumah sakit ini tidak memandang kelas sosial, semua kasta ada disini.Nafisa masih duduk di salah satu sudut di rumah sakit yang sangat sepi. ia duduk di sebuah bangku yang menghadap ke sebuah taman. Ia memandangi layar telepon genggamnya, ada kegelisahan disana. Sehari sebelumnya ia mendapat telepon dari dokter yang biasa merawatnya kalau ia harus melakukan tes darah lanjutan dan beberapa rontgen di tubuhnya. itu yang membuatnya harus membolos satu mata kuliah tadi sore untuk segera menemui sang dokter. Seperti biasa, nafisa selalu dijemput dan diantar oleh Aldi,kekasihnya. Nafisa tak memberi tahu Aldi perihal hal ini, dia tak ingin membuat Aldi khawatir atas keadaanya. karena terburu-buru nafisa tidak sengaja menjatuhkan jam tangan Aldi. hal itu membuat Aldi sangat marah pada nafisa, karena itu adalah jam kesayangannya. Ia meninggalkan nafisa tanpa sepatah kata pun di depan rumahnya.

nafisa masih gelisah memandangi layar telepon genggamnya. Tak ada balasan pesan dan jawaban dari panggilan yang ia tujukan pada Aldi.
jam dinding menunjukan pukul 19.10 itu berarti masih ada waktu 20 menit lagi sebelum penanganan medis oleh dokter. Nafisa masih terus mengirim pesan permohonan maafnya pada aldi atas  ketidak sengajaannya.

"hai Naf" seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan duduk disamping nafisah dengan mengumbar senyumnya yang legit. Ia adalah Suster shanty, suster senior yang biasanya berurusan dengan nafisa jika ia sedang membutuhkan perawatan medis

Nafisa  membalas senyumnya dengan pelukan yang kulayangkan ke tubuhnya. Aku merasa nyaman sekarang, Nafisah  selalu merasa sendiri akhir akhir ini karena selama ia sakit tak ada satupun yang mengetahuinya termasuk kedua orang tuanya . Ia tak mau membuat mereka kasihan bahkan khawatir atas keadaannya.

"kamu kenapa?"

"Aku takut, sus. Aku takut kalo emang beneran aku kenapa-napa"

"kamu selalu begitu, takut sebelum waktunya, takut pada hal yang tidak ada, panik dan gelisah yang menjurus pada ekspektasi ekspektasi fana yang membuat kamu berpikir dan pembuluh darah di otak bekerja lebih keras. uda berapa tisue kamu habiskan untuk mimisan kamu barusan?"

"masih 5 sus hehehehehe"

suster shanty menasihati Nafisa  panjang lebar tentang bagaimana cara "Living the Life Positively". Ternyata ia memerhatikan nafisah dari tadi selama ia duduk disini, seharusnya jam dinas suster shanty sudah habis namun demi nafisa, beliau rela tak pulang kerumah tepat waktu. Suster Shanty juga menjelaskan kalau dokter yang menanganiku kali ini bukan dokter yang biasanya. Beliau bilang kalau dokter kali ini spesial. entah apa yang dimaksud spesial nafisa juga tidak tahu.

19.30, Suster Shanty mengantarkan nafisah masuk ke sebuah ruangan, entah apa itu. Ia menyuruh nafisah melepas alas kaki , mencuci tangan dan kaki dahulu sebelum tindakan medis. dan lagi, ia juga menyuruhnya melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh dan menggantinya dengan jubah khas rumah sakit lengkap dengan penutup kepala.

sebelum masuk keruangan Nafisa  meminta ijin suster Shanty untuk mengirim pesan kepada aldi untuk mengabari kondisinya sekarang, meskipun ia tak berharap banyak ada balasan dari kekasihnya yang sedang sebal padanya.

Nafisa gugup kali ini . Ia hanya melafadzkan doa doa di setiap detik berjalannya. Ia tidak tahu tindakan dokter apalagi yang harus ia jalani.
Suster Shanty masih bersamanya, kali ini suster Shanty mengantarkannya ke sebuah ruangan lagi. Seorang pria tinggi dengan memakai pakaian medis lengkal  yang sama dengan nafisa membuka kan pintu untuk.

"hello nafisa. How are You?" suaranya terdengar aneh, ia berbahasa inggris namun berlogat Jepang

aku membuka separuh masker yang menempel pada wajahku untuk membalas senyum padanya. ia menyuruhku berbaring di kasur. Tak lama sang dokter pun memanggil Suster Shanty untuk ikut dengannya. Suster shanty menghampiriku dengan ekspresi genit menggodaku

"kamu tau ngga dia siapa dan bilang apa tadi?"

Nafisa menggeleng

"dia itu dokter Takha Mouri, spesial penyakit dalam. nah kenapa aku bilang spesial soalnya dia ini barusan ke Indonesia dan kamu orang pertama yang dia periksa. padahal rencananya rumah sakit ini menggunakannya hanya untuk kasus kasus yang berat dan beberapa penelitian"

"hah? jadi penyakitku berat dong?"

"ya nggak, dia itu pengen periksa kamu gara gara waktu tanya tanya pasien ke prof hadi, prof hadi cerita tentang kamu gitu. Prof hadi bilang ada pasiennya yang lucu dan dia bilang kamu"

suster Shanty melepaskan tawanya, yang membuat Nafisa ikut hanyut juga kesana. Nafisa tidak tau apa ini salah satu cara untuk menghiburnya agar tidak terlalu tegang atau memang itu benar adanya

"trus sus dia td bilang apa?"

"dia bilang kalo she's beautiful with dimples on"

"wahahahahahaha serius sus?"

"iya aku serius, kamu yang tenang ya. jangan tegang semua akan baik baik aja"

suster shanty meninggalkanku, kini giliran dokter Takha yang menghampiriku.

"you'll allright. beauty. it's getting rain outside, hope the sound of the rain will peace you. oke i'll handle you. just wait a minute and close your eyes"

Nafisa merasakan sakit dibagian ujung lengan bagian dalam, lalu ia tak ingat apa-apa. ia tertidur.

--------------------------------

Nafisa masih bisa merasakan sakit di lengannya, tapi nafisa memaksakan terbangun dari tidur sesaat. nafisa masih bisa menggerakan semua sendi-sendi di tubuhnya. ia lihat jam dinding masih pukul 9 malam. Jadi tadi hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam penanganan medisku. nafisa sebenarnya juga tidak tahu apa yang telah dilakukan dokter itu yang jelas kini ia hanya ingin pulang sebelum orang tuanya mencemaskannya.

tirai yang mengitari sekitar tempat tidur  yang kutempati ini tiba tiba terbuka oleh seorang lelaki.

"nafisa, you just woke up. Is everything alright?"

"yes,im alright, dok"

"could you please stay here for a night to recovery ?"

nafisa terdiam sejenak, kali ini banyak yang pikirkan. Ia membawa uang tabungannya yang hanya bernilai 6 juta rupiah, ia takut jika memilih bermalam di rumah sakit ini, biaya administrasi yang ia bayarkan akan mahal mengingat ia tak punya asuransi apapun dalam perawatan ini. lebih lagi, ia juga bingung dengan alasan yang akan ia berikan pada orang tuanya perihal bermalam di rumah sakit. padahal ia tadi hanya berpamitan untuk main kerumah teman pada orang tuanya.
setelah beberapa saat berpikir, ia menolak halus untuk tidak bermalam di rumah sakit. Dokter takha Mouri juga tidak memaksakan keputusan Nafisa, ia hanya berpesan untuk segera kembali kalau ada apa- apa lagi.

Suster Shanty mendatangiku. Ia membantuku untuk turun dari tempat tidur, suster shanty masih setia menungguku ternyata.

setelah menyelesaikan administrasi di loket, Nafisa segera bergegas beranjak dari rumah sakit ini. suster Shanty juga bilang kalau hasil tes bisa diambil tiga hari lagi.

Nafisa memberanikan diri membuka telepon genggamnya, ia tak banyak berharap ada balasan dr Aldi yang masih ia cemaskan. Ada satu pesan masuk, ia mulai berharap harap cemas untuk membukanya. Tp memang itu dari Aldi seperti yang ia inginkan. Dari beberapa panjang pesan yg Nafisa sampaikan tentang keadaannya, ia hanya menjawab

: semoga lancar: 

Meskipun begitu, Nafisa sudah sangat gembira dan tak lagi ada pemicu kecemasannya lagi.

di depan rumah sakit ia masih terlihat hujan deras mengguyur. kali ini ia bingung bagaimana cara pulang. walaupun  jarak antara rumah sakit dan rumahnya terbilang dekat namun jalanan di sekitar banjir. Ia mencoba menelpon salah seorang temannya yaitu Kadek untuk  mengantarkannya pulang. kebetulan rumah Kadek juga tak jauh dari rumah sakit ini. Seperti gayung bersambut,kadek mengiyakan permintaan tolong Nafisa.

15 menit kemudian dua wanita dengan kendaraan berbeda yang sudah basah kuyup akibat menerjang hujan sudah berhenti di depan nafisa. Mereka Salsa dan Kadek. aku menyuruh mereka untuk berteduh dulu kedalam lobi rumah sakit sambil menunggu hujan reda,

"kok kalian bisa berdua?" tanyaku pada mereka

"trus kamu ngapain disini?" sekrang ganti salsa yang berbalik tanya,

"aku tadi beli obat doang disini. btw makasih ya uda mau capek capek jemput"

"Aldi mana? ko ga dianter" kali ini kadek yang penasaran

"iya tadi aldi ad urusan jadi ngga bisa anter untung ada kalian"

Kadek bilang kalau ia mengajak salsa untuk menjemput nafisa karena ia takut aku mengalami sesuatu yang berarti gara gara Nafisa meminta dijemput dirumah sakit. Kadek mengajak untuk nekat menerobos hujan yang masih rapih dengan lebat mengairi kota ini. aku terpaksa ikut ide gilanya, aku dengan kadek di motor yang sama. Mereka mengajakku untuk menuju kesalah satu tempat makan rupanya. kita bertiga tak memakai jas hujan jadi kita bertiga benar benar basah kuyup selama perjalanan. terasa sekali guyuran hujan mengenai lenganku yang masih terasa sakit.

Dalam perjalanan, di tengah hujan. Nafisa mengucap syukur karena diberikan teman seindah mereka.

"Sebenernya ini kurang dhawiyah, andai dhawiyah berada bersamaku, kadek dan salsa pasti lebih seru lagi dan aku tak lagi memikirkan penyakitku. Sayang, dhawiyah sedang menunggu mamanya yg sdg sakit jd aku juga berdoa supaya mama dhawiyah cepat sembuh" - 11 maret, Nafisa-

SLIDE1