Rabu, 30 September 2015

Terjebak kali kedua

  Jalanan sudah mulai sepi. aku tak mengira sudah selarut ini aku pulang kerumah. biasanya pukul sebelas malam aku sudah terlelap diatas kasur kebanggan dengan pikiran pikiran seharian yang harus kutanggalkan. Kali ini sudah pukul satu malam. Aku harus bergegas sebelum hal khas tengah malam yang biasa ada di kota kota besar terjadi. sejenak langkahku berhenti, aku baru sadar kalau ayah dan ibuku tengah di luar kota. pantas saja tak ada pesan masuk atau telepon berdering mencariku. mungkin mereka kira aku sudah tertidur, ya mereka kini mulai percaya padaku karena aku sudah 22 tahun. selangkah dan sebait doa menemaniku perjalanan pulang. maklum perpustakaan umum 24 jam di tengah kota dekat dengan rumahku jadi cukup dengan jalan kaki saja bisa kuraih. jalanan menuju rumahku memang tak begitu sepi, karena rumahku termasuk daerah tengah kota jadi masih banyak aktifitas meskipun di tengah malam sekalipun. setalah 15 menit berjalan, akhirnya aku sampai rumah dengan selamat. kulemaskan seluruh tubuhku diatas kasur disertai nafas panjang sisa sisa daya seharian. mataku melihat langit langit kamar, ada hal yang menggelitik batin. aku ingat curhatan salah seorang sahabat  mengenai pria yang ia cintai. Safira adalah salah seorang korban cinta.Cinta yang katanya bahagia. Namun Safira? she was hurt because of love. Darma,seorang mahasiswa semester lima yang fira pun tak tahu ia berasal dari universitas mana. Yang pasti Darma telah mencuri hati fira. singkat cerita fira bertemu Darma karena mereka ditempatkan dalam satu divisi dalam kegiatan magang di salah satu media online. Safira yang kala itu menjadi mahasiswa jurusan jurnalistik ditempatkan sebagai editor dengan Darma. kata fira sosok Darma termasuk sosok yang cuek dan pembawaannya bijaksana. Dan kata Fira juga Darma bisa dikatakan pria paling tampan di ruangannya. itu yang membuat fira akhirnya menyukai Darma diam diam. Fira yang sangat percaya dengan faham "witing trisno jalaran soko kulino" ini terus mencari celah agar ia tetap bisa berkomunikasi dengan Darma di sela sela kerja nya. Dan pada akhirnya waktulah yang harus ikut andil mengenai perasaan. Waktu Fira untuk magang sebagai editor disana telah habis, sedangkan sisa waktu Darma masih tiga bulan lagi. itu berarti tak ada lagi percakapan sampah yang akan dibuat fira untuk menarik hati darma. Fira berkata padaku kalau ia begitu menyukai Darma, entah sebesar apa yang jelas ia pernah menangis di peluk ku karena rasa sakit menyukainya secara diam. Dan hal yang membuatnya sakit ialah Fira harus menerima kenyataan kalau tidak akan melihat Darma di kota ini lagi, karena Fira harus melanjutkan studinya di Jakarta. Sehari sebelum keberangktannya ke Jakarta, Fira bercerita padaku panjang lebar mengenai Darma. Dia juga menunjukan padaku beberapa pesan tentang perasaannya pada Darma, yang membuatnya menangis tersedu-sedu dua kali lipat ketimbang sebelumnya. Fira menjelaskan perasaanya pada Darma. Dari pesan yang aku baca,memang terkesan fira memaksakan perasaan Darma untuk menyukainya. Fira tak bisa menerima kenyataan kalau Darma memang tidak ada perasaan padanya. Tapi aku juga tidak terima dengan balasan Darma yang terkesan tidak tahu apa apa dan tidak mau menanggung perasaan Fira selama ini. Darma tiba tiba menghilang dan tidak mau tau atas pengakuan yang dibuat Fira. Seakan ini semua terbuat karena salah Fira terlah menyukainya. Paling tidak ada sikap apresiasi yang dewasa dan lugas dari Darma atas semua ini, hargai usaha Fira yang telah jujur padanya dengan alasan alasan yang bisa diterima seorang perempuan.  Andaikan dia tahu bagi seorang perempuan berkata seperti itu pun berat. walaupun aku tak pernah mengenal Darma dan melihatnya secara langsung, fikiranku tak mengasingkan diri mendengar ceritanya dari fira.

 Kali ini hati Fira masih bisa kuamankan dan emosinya bisa kukembalikan dengan cerita cerita fiktif  romantis dan humoris  yang aku buat. aku ingin fira selamat dari semua ini agar study s2 nya lancar. Aku mencoba setiap waktu ada bersamanya, apapun yang ia butuh aku bersedia lakukan. Aku hanya ingin Safira sahabatku selamat dari cinta yang menyayat.

Karena aku juga pernah diabaikan sedemikian rupa. Aku juga pernah merasakan hal sedemikian rupa. Aku tak ingin ia merasakan keterpurukan yang sama.

                                     

*********

Aku sangat tau rasanya jika cinta tak bertuan. Tak ada yang bertanggung jawab atas ini semua. Namun, pria ini sudah sebulan lebih kita bersama sama. Rasanya 12 jam terlalu singkat untuk sebuah pertemuan di setiap minggu nya. Aku kecanduan. Perkenalkan, seorang pemuda tampan bernama Krisna ini adalah teman satu kampusku. Kebetulan kita dipertemukan dalam suatu mata kuliah yaitu Kalkulus yang dimana aku menjadi tentor sebayanya. Seperti definisi mutlaknya, tentor adalah pembimbing. Di hari pertama aku dipilih menjadi tentornya waktu itu, niatku sudah bulat untuk menjadikan lelaki ini lebih pintar di mata kuliah ini, dimana yang kata para mahasiswa,mata kuliah neraka.  jangan tanyakan padaku bagaimana aku bisa terpilih menjadi tentor mata kuliah ini, karena aku pun tak merasa jika aku senang pelajaran exact yang pasti selama empat semester akhir IP dan nilai mata kuliahku 3 teratas d 150 mahasiswa.
 
                 "nada, mama kamu sudah pulang belum dr Jakarta? nanti malam bisa belajar lagi?" suara ini yang selalu membayangiku, suara seperti Rio dewanto milik Krisna

             "belum katanya sih besok, ya bisa nanti siang aku tunggu dirumah"

lelaki itu hanya tersenyum datar sembari berjalan menjauh dariku. Bukan, Bukan karena ia marah padaku atau sedang bete. Itulah Krisna, sosoknya cuek dan terkesan irit ngomong. Namun, jika aku mendekat lima senti saja pada kulitnya, sosoknya berubah. ia menjadi pemerhati yang lebih baik dari pemerhati terbaik. Apalagi jika ia memeluk ku dan mencium keningku, aku sudah lupa bahwa Indonesia Punya Raja Ampat yang katanya surga dunia karena aku sudah menemukan surgaku pada genggamannya. sempat aku mengumpat pada diriku sendiri. Tentor macam apa aku ini, sehingga bisa sampai sejauh ini. tugasku yang hanya memberikan pelajaran tambahan namun ia memberiku kenyamanan. Kita sudah seperti pasangan yang semua orang mengharapkan. bagiku seperti itu, karena tak ada yang tak indah di setiap hariku bila bersamanya. bila ada yang bertanya tentang status hubungan. ya kita masih dalam jangkauan kata "teman" bila di lisan, karena tak ada yang berani bertaruh merubah keadaan.

Dua hari lagi Fira akan kembali pulang, aku sudah tak sabar menantikan mahasiswa s2 ini bercerita padaku tentang hiruk pikuknya Ibu Kota Negara.

************

Kedatangan  Kereta api paling pagi dari Jakarta waktu itu pukul 06.10 aku sudah duduk di kursi tunggu stasiun Gubeng pukul 05.30. ya karena aku anthusias, ingin melihat fira datang di pelukku setelah waktu dan jarak tempuh jadi penguasa rindu diantara kita. tak berapa lama satu kereta berjalan pelan dari arah barat, aku berdiri seraya datangnya kereta tepat di depanku. setelah kereta benar benar berhenti, satu persatu penumpang turun dengan tak ada yang berdesakan. mereka manusia modern yang sudah taat aturan. Aku tak melangkahkan kaki ku sedikitpun dari tempatku berdiri. aku percaya, Fira pasti mengenaliku meski dari sudut manapun ia memandangku. benar saja, seseorang berteriak namaku dan berlari ke arahku sambil membawa beberapa tas jinjing. tepat di depanku semua yang ada di tangannya dihempaskan ke tanah, ia memelukku erat. Rangkaian kata rindu terucap dari suara lirih dan seraknya.

"Nad aku kangen sama kamu. kangen bangeeet. dan kamu tau, Darma yang aku ceritakan ke kamu juga jemput aku pagi ini. dia mau menemuiku"
masih dalam pelukannya, aku masih tertahan pelukan fira. Aku mengusap air mata yang tiba tiba jatuh. Entah ini perasaan terharu karena rindu yang akirnya terpenuhi atau yang lain. yang jelas  Kereta yang dinaiki fira, yang berhenti tepat di depanku perlahan berjalan, seiring berjalannya juga air mata ke pipi. Ada apa ini? Mataku masih terpejam untuk menahan air mata yang terus keluar. Baru bisa kubuka setelah nafas panjang yang aku hembuskan beberapa saat. Firasatku mulai berulah . Belum selesai dengan air mata, Hatiku harus digoncang lagi dengan sesosok lelaki yang berdiri tepat di seberangku, yang bahkan terlihat jelas setelah kereta api menghilang dari depanku. Krisna ada disini. Krisna menatapku yang masih berpelukan dengan fira dengan datar. sesaat Fira melepaskan pelukannya. Aku masih memandang Krisna dengan tatapan kosong, kita berdua berpandangan. melihat hal ini, Fira memutar badannya dan melihat objek apa yang sebenarnya aku lihat. Matanya mendadak berkerling sejurus setelah melihat Krisna. Ia melambaikan tangannyapada Krisna sambil tersenyum manis "Darma, sini ini Nada". seluruh badanku kaku sesaat, semua terkejut. "darma?" dalam hatiku juga berkecamuk. lelaki itu tersebut mengangguk dan membalas senyum. Ia kini menuju ke arahku dan Fira. aku semakin tak berdaya. Krisna atau Darma versi fira ini menyalami Fira dan tanpa memandangku sama sekali. Saat itu aku lupa, aku masih bernafas atau aku sekarng sudah berada diatas awan yang pasti aku masih memandang jelas mereka berdua bertatapan. "Bagaimana kabarmu fir? maafkan aku ya fir, aku tau aku salah pernah mengabaikan perasaanmu. aku tau kamu suka aku. tapi waktu itu aku memang belum bisa menerima cinta apapun. aku masih trauma. Fir, kamu sudah dewasa. Cinta tak harus memiliki" . aku terjebak dalam obrolan mereka berdua. aku kuatkan sendi sendi kaki ku agar bisa melangkah dari tempat ini. Aku bisa perlahan meninggalkan mereka berdua.

Krisna Darmantara. aku dan Fira terjebak dengan hati yang sama. Memang aku lebih maju satu langkah dari Fira, karena aku pernah merasakan bagaimana indahnya menghabiskan waktu berdua bersamanya. sedangkan Fira ia menyimpan cintanya dalam hati saja. Hujan yang sedari tadi terus mengguyur badanku dan mengiringi langkahku membuat aku harus menyerah pada kisah cinta. aku meninggalkan Krisna saat perasaanku cintaku sedang memuncak padanya. Ia bilang, ia mencintaiku dan memintaku menjadi pendamping hidupnya. Aku tak bisa. Aku tau nantinya Fira akan terluka dua kali. Cukup aku saja yang mengalah, aku harus pergi dari mereka. dan kota ini.

if we are meant to be together
it will be



SLIDE1