Tumben sekali rumah sakit ini terlihat lengang, padahal rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar di kota ini. Bisa dibilang rumah sakit ini tidak memandang kelas sosial, semua kasta ada disini.Nafisa masih duduk di salah satu sudut di rumah sakit yang sangat sepi. ia duduk di sebuah bangku yang menghadap ke sebuah taman. Ia memandangi layar telepon genggamnya, ada kegelisahan disana. Sehari sebelumnya ia mendapat telepon dari dokter yang biasa merawatnya kalau ia harus melakukan tes darah lanjutan dan beberapa rontgen di tubuhnya. itu yang membuatnya harus membolos satu mata kuliah tadi sore untuk segera menemui sang dokter. Seperti biasa, nafisa selalu dijemput dan diantar oleh Aldi,kekasihnya. Nafisa tak memberi tahu Aldi perihal hal ini, dia tak ingin membuat Aldi khawatir atas keadaanya. karena terburu-buru nafisa tidak sengaja menjatuhkan jam tangan Aldi. hal itu membuat Aldi sangat marah pada nafisa, karena itu adalah jam kesayangannya. Ia meninggalkan nafisa tanpa sepatah kata pun di depan rumahnya.
nafisa masih gelisah memandangi layar telepon genggamnya. Tak ada balasan pesan dan jawaban dari panggilan yang ia tujukan pada Aldi.
jam dinding menunjukan pukul 19.10 itu berarti masih ada waktu 20 menit lagi sebelum penanganan medis oleh dokter. Nafisa masih terus mengirim pesan permohonan maafnya pada aldi atas ketidak sengajaannya.
"hai Naf" seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan duduk disamping nafisah dengan mengumbar senyumnya yang legit. Ia adalah Suster shanty, suster senior yang biasanya berurusan dengan nafisa jika ia sedang membutuhkan perawatan medis
Nafisa membalas senyumnya dengan pelukan yang kulayangkan ke tubuhnya. Aku merasa nyaman sekarang, Nafisah selalu merasa sendiri akhir akhir ini karena selama ia sakit tak ada satupun yang mengetahuinya termasuk kedua orang tuanya . Ia tak mau membuat mereka kasihan bahkan khawatir atas keadaannya.
"kamu kenapa?"
"Aku takut, sus. Aku takut kalo emang beneran aku kenapa-napa"
"kamu selalu begitu, takut sebelum waktunya, takut pada hal yang tidak ada, panik dan gelisah yang menjurus pada ekspektasi ekspektasi fana yang membuat kamu berpikir dan pembuluh darah di otak bekerja lebih keras. uda berapa tisue kamu habiskan untuk mimisan kamu barusan?"
"masih 5 sus hehehehehe"
suster shanty menasihati Nafisa panjang lebar tentang bagaimana cara "Living the Life Positively". Ternyata ia memerhatikan nafisah dari tadi selama ia duduk disini, seharusnya jam dinas suster shanty sudah habis namun demi nafisa, beliau rela tak pulang kerumah tepat waktu. Suster Shanty juga menjelaskan kalau dokter yang menanganiku kali ini bukan dokter yang biasanya. Beliau bilang kalau dokter kali ini spesial. entah apa yang dimaksud spesial nafisa juga tidak tahu.
19.30, Suster Shanty mengantarkan nafisah masuk ke sebuah ruangan, entah apa itu. Ia menyuruh nafisah melepas alas kaki , mencuci tangan dan kaki dahulu sebelum tindakan medis. dan lagi, ia juga menyuruhnya melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh dan menggantinya dengan jubah khas rumah sakit lengkap dengan penutup kepala.
sebelum masuk keruangan Nafisa meminta ijin suster Shanty untuk mengirim pesan kepada aldi untuk mengabari kondisinya sekarang, meskipun ia tak berharap banyak ada balasan dari kekasihnya yang sedang sebal padanya.
Nafisa gugup kali ini . Ia hanya melafadzkan doa doa di setiap detik berjalannya. Ia tidak tahu tindakan dokter apalagi yang harus ia jalani.
Suster Shanty masih bersamanya, kali ini suster Shanty mengantarkannya ke sebuah ruangan lagi. Seorang pria tinggi dengan memakai pakaian medis lengkal yang sama dengan nafisa membuka kan pintu untuk.
"hello nafisa. How are You?" suaranya terdengar aneh, ia berbahasa inggris namun berlogat Jepang
aku membuka separuh masker yang menempel pada wajahku untuk membalas senyum padanya. ia menyuruhku berbaring di kasur. Tak lama sang dokter pun memanggil Suster Shanty untuk ikut dengannya. Suster shanty menghampiriku dengan ekspresi genit menggodaku
"kamu tau ngga dia siapa dan bilang apa tadi?"
Nafisa menggeleng
"dia itu dokter Takha Mouri, spesial penyakit dalam. nah kenapa aku bilang spesial soalnya dia ini barusan ke Indonesia dan kamu orang pertama yang dia periksa. padahal rencananya rumah sakit ini menggunakannya hanya untuk kasus kasus yang berat dan beberapa penelitian"
"hah? jadi penyakitku berat dong?"
"ya nggak, dia itu pengen periksa kamu gara gara waktu tanya tanya pasien ke prof hadi, prof hadi cerita tentang kamu gitu. Prof hadi bilang ada pasiennya yang lucu dan dia bilang kamu"
suster Shanty melepaskan tawanya, yang membuat Nafisa ikut hanyut juga kesana. Nafisa tidak tau apa ini salah satu cara untuk menghiburnya agar tidak terlalu tegang atau memang itu benar adanya
"trus sus dia td bilang apa?"
"dia bilang kalo she's beautiful with dimples on"
"wahahahahahaha serius sus?"
"iya aku serius, kamu yang tenang ya. jangan tegang semua akan baik baik aja"
suster shanty meninggalkanku, kini giliran dokter Takha yang menghampiriku.
"you'll allright. beauty. it's getting rain outside, hope the sound of the rain will peace you. oke i'll handle you. just wait a minute and close your eyes"
Nafisa merasakan sakit dibagian ujung lengan bagian dalam, lalu ia tak ingat apa-apa. ia tertidur.
--------------------------------
Nafisa masih bisa merasakan sakit di lengannya, tapi nafisa memaksakan terbangun dari tidur sesaat. nafisa masih bisa menggerakan semua sendi-sendi di tubuhnya. ia lihat jam dinding masih pukul 9 malam. Jadi tadi hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam penanganan medisku. nafisa sebenarnya juga tidak tahu apa yang telah dilakukan dokter itu yang jelas kini ia hanya ingin pulang sebelum orang tuanya mencemaskannya.
tirai yang mengitari sekitar tempat tidur yang kutempati ini tiba tiba terbuka oleh seorang lelaki.
"nafisa, you just woke up. Is everything alright?"
"yes,im alright, dok"
"could you please stay here for a night to recovery ?"
nafisa terdiam sejenak, kali ini banyak yang pikirkan. Ia membawa uang tabungannya yang hanya bernilai 6 juta rupiah, ia takut jika memilih bermalam di rumah sakit ini, biaya administrasi yang ia bayarkan akan mahal mengingat ia tak punya asuransi apapun dalam perawatan ini. lebih lagi, ia juga bingung dengan alasan yang akan ia berikan pada orang tuanya perihal bermalam di rumah sakit. padahal ia tadi hanya berpamitan untuk main kerumah teman pada orang tuanya.
setelah beberapa saat berpikir, ia menolak halus untuk tidak bermalam di rumah sakit. Dokter takha Mouri juga tidak memaksakan keputusan Nafisa, ia hanya berpesan untuk segera kembali kalau ada apa- apa lagi.
Suster Shanty mendatangiku. Ia membantuku untuk turun dari tempat tidur, suster shanty masih setia menungguku ternyata.
setelah menyelesaikan administrasi di loket, Nafisa segera bergegas beranjak dari rumah sakit ini. suster Shanty juga bilang kalau hasil tes bisa diambil tiga hari lagi.
Nafisa memberanikan diri membuka telepon genggamnya, ia tak banyak berharap ada balasan dr Aldi yang masih ia cemaskan. Ada satu pesan masuk, ia mulai berharap harap cemas untuk membukanya. Tp memang itu dari Aldi seperti yang ia inginkan. Dari beberapa panjang pesan yg Nafisa sampaikan tentang keadaannya, ia hanya menjawab
: semoga lancar:
Meskipun begitu, Nafisa sudah sangat gembira dan tak lagi ada pemicu kecemasannya lagi.
di depan rumah sakit ia masih terlihat hujan deras mengguyur. kali ini ia bingung bagaimana cara pulang. walaupun jarak antara rumah sakit dan rumahnya terbilang dekat namun jalanan di sekitar banjir. Ia mencoba menelpon salah seorang temannya yaitu Kadek untuk mengantarkannya pulang. kebetulan rumah Kadek juga tak jauh dari rumah sakit ini. Seperti gayung bersambut,kadek mengiyakan permintaan tolong Nafisa.
15 menit kemudian dua wanita dengan kendaraan berbeda yang sudah basah kuyup akibat menerjang hujan sudah berhenti di depan nafisa. Mereka Salsa dan Kadek. aku menyuruh mereka untuk berteduh dulu kedalam lobi rumah sakit sambil menunggu hujan reda,
"kok kalian bisa berdua?" tanyaku pada mereka
"trus kamu ngapain disini?" sekrang ganti salsa yang berbalik tanya,
"aku tadi beli obat doang disini. btw makasih ya uda mau capek capek jemput"
"Aldi mana? ko ga dianter" kali ini kadek yang penasaran
"iya tadi aldi ad urusan jadi ngga bisa anter untung ada kalian"
Kadek bilang kalau ia mengajak salsa untuk menjemput nafisa karena ia takut aku mengalami sesuatu yang berarti gara gara Nafisa meminta dijemput dirumah sakit. Kadek mengajak untuk nekat menerobos hujan yang masih rapih dengan lebat mengairi kota ini. aku terpaksa ikut ide gilanya, aku dengan kadek di motor yang sama. Mereka mengajakku untuk menuju kesalah satu tempat makan rupanya. kita bertiga tak memakai jas hujan jadi kita bertiga benar benar basah kuyup selama perjalanan. terasa sekali guyuran hujan mengenai lenganku yang masih terasa sakit.
Dalam perjalanan, di tengah hujan. Nafisa mengucap syukur karena diberikan teman seindah mereka.
"Sebenernya ini kurang dhawiyah, andai dhawiyah berada bersamaku, kadek dan salsa pasti lebih seru lagi dan aku tak lagi memikirkan penyakitku. Sayang, dhawiyah sedang menunggu mamanya yg sdg sakit jd aku juga berdoa supaya mama dhawiyah cepat sembuh" - 11 maret, Nafisa-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar